Monetisasi Blog

Yang Baik dan Buruk: Desain Iklan di Blog

Pernahkah Anda merasa ‘jengkel’ ketika membuka sebuah situs karena teknik periklanan yang mereka gunakan sangat mengganggu kenyamanan?

Apa yang Anda lakukan setelah itu? Menekan tombol back? Atau langsung memukul monitor LCD Anda?

Ya, tidak dipungkiri ada beberapa teknik periklanan yang membuat kita langsung ‘bad mood’ begitu melihatnya, dan rasanya ingin cepat-cepat meninggalkan situs tersebut.

Nah, pengalaman kita sendiri itu, seyogyanya menjadi pertimbangan yang mesti kita perhatikan dengan baik. Jangan sampai justru itu diterapkan di blog kita sendiri.

Karena bukan uang yang akan kita dapatkan, tapi justru blog kita akan cepat ‘ditinggalkan’. Kenyamanan pengunjung menjadi salah faktor kunci kesuksesan mendapatkan uang dari blog.

Nah, kali ini saya ingin mengulas sedikit tentang beberapa teknik dan desain iklan yang paling saya benci (paling tidak menurut penilaian saya pribadi). Dalam pandangan saya ada teknik yang buruk dan ada yang teknik yang baik.

Teknik iklan yang buruk

  • Pops-up di depan mata. Ketika Anda mengklik sebuah link karena tertarik dengan informasi yang ditawarkan, bukannya informasi didapatkan, tapi Anda justru disuguhi sebuah pop-up besar persis depan mata Anda. Bagaimana perasaan Anda?
  • Loading yang lambat. Pepatah lama terus berlaku, tidak ada yang pekerjaan yang lebih menjengkelkan dibandingkan dengan ‘menunggu’. Iklan yang membuat loading halaman keseluruhan menjadi sangat lambat (entah karena desainnya yang buruk atau karena banyaknya iklan yang diload), sangat memberikan pengalaman negatif kepada pengunjung. Wajib dihindari.

    Untuk itu, bagi Anda yang menjalankan Adsense, saya sarankan untuk memakai kode asinkron yang membuat proses loading menjadi lebih cepat.

  • Trik yang menipu pengunjung untuk mengklik. Ada-ada saja memang kreatifitas pengiklan agar pengunjung mengklik iklan mereka. Tapi percayalah, jika cara seperti yang digunakan, maka bukan hanya kehilangan pengunjung, tapi juga akan menjatuhkan kredibilitas pemasang iklan itu sendiri.
  • Dimana tombol X? Sumpah. Saya paling jengkel ketika disuguhi sebuah jendela yang tidak memiliki tombol close. Saya seperti diperkosa untuk mengklik tombol OK yang akan mengantarkan saya ke alamat pengiklan. Bagaimana dengan Anda?
  • Menutupi sesuatu yang ingin dilihat. Halaman belakang menjadi redup, di depan ada sesuatu yang menutupi. Sungguh menjengkelkan.
  • Tidak mengatakan tujuan yang sesungguhnya. Gambar apakah ini? (Anda melihat gambar mirip -maaf- sebuah bokong besar). Saya bingung untuk apa sebenarnya iklan ini. Saya tidak akan pernah mengkliknya seumur-umur.
  • Loncat sana loncat sini. Saya merasa dikejar-kejar sama iklan itu, kemanapun saya pergi dia meloncat mendekati. Tekan tombol X! Kabur!
  • Menempati sebagian besar halaman. Saya menganggap situs seperti ini dibuat hanya untuk iklan. Untuk apa saya berlama-lama di situ?
  • Berkedip-kedip. Kuning, merah, hijau. Berkedip-kedip tiada henti. Sungguh melelahkan mata.
  • Otomatis memutar audio. Saya membuka sebuah situs, loadnya agak lama: oke, saya bisa bersabar karena ingin mencari informasi yang saya butuhkan. Tapi ketika terbuka sempurna, tiba-tiba saya disuguhi lagu yang tidak saya kenal (dan bukan favorite saya), tanpa ba bi bu, saya langsung menekan tombol back! Maaf, saya kesini untuk mencari informasi, bukan untuk mendengarkan suara.

Teknik iklan yang baik

Sebenarnya, semua orang cenderung tidak menyukai iklan. Itu kenyataan. Tapi, jika dikemas dan didesain sedemikian rupa dengan tetap memperhatikan kenyamanan pengunjung, sebuah iklan tetap dinilai positif oleh pengunjung situs. Inilah teknik yang saya sukai.

  • Memberi gambaran jelas apa yang akan terjadi ketika diklik.
  • Relevan dengan informasi yang sedang dicari.
  • Mengatakan dengan jujur, bahwa itu adalah sebuah iklan.
  • Memberi informasi yang cukup tentang apa yang diiklankan, dan
  • Menyediakan informasi tambahan tanpa harus meninggalkan halaman.

Intinya: memberi pilihan yang jelas, menyatakan dengan jujur dan menyediakan informasi yang diinginkan oleh pengunjung.

Dari pengalaman saya, tidak ada yang lebih baik dari Google Adsense dalam menyajikan iklan dengan syarat-syarat di atas. Itulah juga yang menjadi salah satu alasan mengapa saya menyukai Adsense.

Apa arti ini semua untuk kita?

Jika Anda adalah seorang publisher:
Berpikirlah 2 kali sebelum menerima iklan dengan teknik dan desain yang buruk. Dalam jangka pendek, mungkin akan memberikan hasil yang ‘lumayan’, tapi dalam jangka panjang justru akan menjatuhkan ‘nilai’ situs atau blog Anda sendiri.

Jika Anda seorang advertiser:
Bisa jadi Anda mendapatkan nilai CTR yang tinggi, sehingga Anda terus akan menggunakan teknik dan desain yang ‘menggangu’ pengunjung, selama masih ada situs yang mau menerima iklan seperti itu.

Namun, nilai CTR tinggi, bukanlah jaminan keberhasilan dalam kampanye brand Anda. Karena dengan cara demikian, tidak akan menghasilkan konversi yang baik, seperti terjadinya penjualan misalnya. Tapi justru dalam jangka panjang brand image Anda sedangkan dipertaruhkan di mata orang ramai.

Terakhir, meskipun Anda tidak menampilkan iklan di situs Anda tapi beberapa teknik di atas juga tetap berlaku.

Jendela pop-up, waktu loading yang lambat, kategori dan trik lain yang menipu untuk mendapatkan klik dan audio yang dijalankan secara otomatis, adalah beberapa hal yang secara umum tidak disukai oleh pengunjung, meskipun situs Anda tidak menampilkan iklan satu pun!

Bagaimana pendapat Anda sendiri? Setuju dengan saya? Atau saya telah melewatkan sesuatu? Senang jika Anda mau berbagi. Sukses selalu untuk kita semua.

Salam.

Tentang penulis

Gee Jhon

Gee Jhon

Seorang yang suka belajar, senang berbagi dan gemar berdiskusi. Full time kerja online menjadi freelancer desain grafis, Youtuber serta mengelola beberapa blog.

Tulis komentar

8 Komentar

%d blogger menyukai ini: