Menulis Konten

Menulis Cepat: Praktek Terbaik Menulis Artikel

Anda membuka halaman kosong untuk membuat posting baru. Ide sudah didapat, dan Anda mulai menulis beberapa kata pembuka.

Setelah menulis satu dua kalimat, Anda kembali membaca dari awal. Anda merasa salah dalam memilih kata, lalu mulai mengganti beberapa kata yang dirasa lebih baik.

Kemudian, Anda membacanya sekali lagi, kali ini Anda melihat ada banyak salah ketik di sana-sini, lalu Anda memperbaikinya.

Lantas, Anda membacanya sekali lagi dari awal. Lagi-lagi, Anda merasa telah menulis kalimat yang salah. Anda berpikir untuk menggantinya sama sekali dengan kalimat yang baru.

Begitu berulang!

Setiap kali Anda selesai menulis beberapa kalimat, Anda langsung membacanya lagi dari awal, memperbaikinya di sana-sini. Terasa melelahkan. Terasa membosankan.

Jika Anda melakukannya dengan cara di atas, berapa banyak energi dan waktu yang Anda habiskan untuk menulis sebuah artikel?

Dalam banyak kesempatan saya selalu menyarankan agar memisahkan antara proses ‘menulis’ dan ‘mengedit’. Anda tidak boleh menulis dan mengedit dalam sekali proses. Dan itu adalah sebuah kebiasaan yang sangat baik.

Tapi, kali ini saya ingin menyampaikan praktek yang jauh lebih baik dari itu, yaitu: menulis cepat!

Mengapa menulis cepat?

Inilah alasannya:

Dengan menulis cepat, Anda tidak punya waktu untuk mengkritik tulisan Anda sendiri. Dan, semakin banyak energi Anda gunakan untuk mengkritik, semakin sedikit energi Anda untuk menulis. Inilah yang membuat banyak blogger pemula mengalami kebuntuan dalam menulis artikel.

Masih kurang percaya? Oke, saya tambah lagi.

Saat Anda menulis dengan sangat cepat, kecepatan menulis Anda bisa mengimbangi kecepatan pikiran Anda.

Ya, saya serius!

Bahkan, orang yang sama sekali bukan termasuk genius sekalipun (termasuk saya), mampu berpikir jauh lebih cepat dari yang mampu ia tulis saat pikirannya bebas melaju.

Biarlah otak Anda berlari, bila perlu terbang. Jangan memperlambat laju berpikir otak Anda dengan menengok kembali tulisan Anda dan membacanya dari awal.

Biarlah kata-kata meluncur dengan deras lalu Anda tuliskan. Paling tidak, dengan cara ini, Anda tidak akan kehilangan satu pemikiran, karena telah Anda tuangkan ke dalam tulisan secepat Anda bisa.

Oleh karena itu, sebelum Anda menyelesaikan, sebelum semua isi kepala telah Anda tuangkan dalam tulisan, jangan pernah mengedit artikel Anda. Tulisan siapapun pada mulanya adalah ‘sampah’, sampai ia diedit dan diperbaiki.

Pengeditan sama sekali sangat tidak efisien, jika Anda selalu berusaha mengedit setiap kata yang baru saja dituliskan.

Kesimpulannya

Sebagai draft awal, cobalah menulis seperti angin, bebas dan lepas. Tunda pengeditan, sampai Anda siap membuat draft kedua. Pisahkan antara proses menulis dan mengedit. Itulah praktek terbaik dalam membuat artikel yang berkualitas.

Bagaimana kebiasaan Anda sendiri dalam menulis selama ini? Silakan berbagi melalui komentar.

Salam.

Tentang penulis

Gee Jhon

Gee Jhon

Seorang yang suka belajar, senang berbagi dan gemar berdiskusi. Full time kerja online menjadi freelancer desain grafis, Youtuber serta mengelola beberapa blog.

Tulis komentar

6 Komentar