Menulis Konten

Menulislah seperti Berlari, Edit Belakangan

Saya akui, dulu pun saya melakukan kesalahan ‘besar’ ini. Ketika menulis artikel, saya selalu berhenti setiap beberapa detik untuk mengoreksi kalimat atau kata terakhir. Seringkali pula saya kembali ke awal tulisan dan membacanya lagi dari awal sebelum melanjutkannya.

Saya berpikir bahwa kata dan kalimat telah ditulis sempurna sebelum saya melanjutkan menulis. Namun setelah sekian lama menjadi blogger, ternyata cara ini sangat tidak efisien.

Lalu bagaimana cara atau pendekatan yang lebih baik dalam menulis?

Mudah saja. Menulislah seperti orang berlari, tidak boleh menengok ke belakang, lalu edit belakangan. Sejak lama saya menerapkan gaya penulisan ini, yaitu: jangan pernah menekan tombol backspace dalam menulis. Awalnya memang canggung dan sulit, karena mata Anda begitu tergoda pada kesalahan ketik dan susunan kalimat yang salah. Tapi, lama-kelamaan Anda akan terbiasa, dan saat itu saya jamin produktivitas Anda akan meningkat dan mampu menghasilkan tulisan yang jauh lebih bagus lagi.

Alasan utamanya adalah, bahwa saat Anda menulis, jangan biarkan aliran ide Anda tertanggu terganggu oleh salah ketik atau susunan kalimat. Jangan biarkan otak Anda bekerja ekstra keras dengan menjalankan dua fungsi sekaligus, yaitu sisi kreatif (menulis) dan sisi logis (mengedit).

Setelah semua tertuang ke layar komputer, baru lah kemudian Anda mengedit, memperbaiki salah ketik atau mengganti susunan kalimat yang dirasa kurang pas. Dengan cara ini Anda akan mampu menulis lebih baik.

Bagaimana? Sudah menangkap apa yang saya maksud?

Salam.

Tentang penulis

Gee Jhon

Gee Jhon

Seorang yang suka belajar, senang berbagi dan gemar berdiskusi. Full time kerja online menjadi freelancer desain grafis, Youtuber serta mengelola beberapa blog.

Tulis komentar

20 Komentar

  • Saya setuju sekali dengan tulisan ini, mas Gee Jhon. Kalau sedang menulis, semua yang ada dalam pikiran langsung saya tuangkan, tidak memikirkan terlebih dahulu bagaimana judulnya, bagaimana paragraf pembukanya, kalimatnya sudah bagus atau belum, dan lain sebagainya. Setelah itu baru “beres-beres”; memperbaiki salah ketik tulisan, menyusun kalimat-kalimat supaya mengalir dan enak dibaca, dan biasanya baru menentukan judul. Kemudian, saya baca lagi tulisan tersebut 2-3 jam kemudian atau malah keesokan harinya. Biasanya otak saya malah menjadi segar sehingga bisa menambah ide baru untuk tulisan agar lebih baik dan merapikan kembali struktur tulisan. Kalau semua sudah oke, barulah di-post ke blog.

  • nah ini yang sering saya alami mas….gara-gara ada salah ketik di tengah kalimat, abis tak benerin…maw nglanjutin ,eeeh waladalah…stop di situ,
    makasih infonya mas…membantu sekali.

  • Mantap tenan om Gee Jhon, .. om mau tanya, saya ini kadang merasa hobi nulis, tapi kadang kok sulit bener ya cari ide nulisnya,.. gimana itu om?? terus apakah gak papa kalok sebuah blog di isi sama artikel yang berbeda jalur?

  • “Jangan biarkan otak Anda bekerja ekstra keras dengan menjalankan dua fungsi sekaligus, yaitu sisi kreatif (menulis) dan sisi logis (mengedit).”

    mantep, dapet ilmu baru nih,
    saya setuju dengan ide artikel ini,
    temukan ide >> baca 3-4 referensi >> mengetik dan berlari
    semoga saya kuat untuk tidak melihat typo dan tombol backspace

  • Saya setuju sekali mas, karena hal itu malah akan menghambat kita.. Toh setelah kita balik ujug-ujungnya nanti waktu selesai nulis harus kita baca lagi kan.. jadi biar aja sekalian terakhir membaca ulang dan mengedit..

  • Salah ketik itu ada pengaruhnya gak terhadap serp google kak ? Saya jadi khawtr akan hal itu. tapi juga saya sulit untuk menghindari typo yang sering saya lakukan dengan tanpa saya sengaja kak.. 🙁

  • iya.. bener juga kadang saya jg mengalami mas. kalau sudah terlalu sering mengedit pas lagi ngetik, otak cepat lelah. jadi artikel yang mampu dibuat menjadi sedikit.tapi sepertinya mas jhon perlu istirahat juga.sehingga ikut salah ketik. :lelah menghitung dolar kali ya 😀