Menulis Konten

Muncul Ide, Langsung Tulis: Melatih Diri Jadi Penulis Hebat

Dari mana dan apa yang anda harus lakukan ketika ide muncul?

Budi Darma, salah seorang sastrawan Indonesia, ketika masih kuliah di Indiana University, pernah bersama dengan seorang perempuan dan tiga anak laki-laki dalam sebuah lift. Saat melihat perempuan itu, ia mendapat ide. Saat masuk kamar, Budi Darma langsung mengetik. Beberapa hari kemudian, lahirlah novel setebal 264 halaman (cetakan Balai Pustaka, tahun 2009). Novel berjudul ‘Olenka’ itu memenangi SEA Write Award.

Lain halnya dengan Agus Noor, cerpenis kenamaan tanah air, saat kecelakaan pesawat Adam Air tahun 2007, mendapat ide untuk menulis cerpen tentang peristiwa itu. Ia menuliskan ide cerita itu. Dua tahun kemudian, hanya dalam tempo dua jam, cerpen berjudul ‘Kartu Pos dari Surga’ itu rampung. Karya fiksi itu masuk dalam 20 cerpen terbaik tahun 2009 versi Pena Kencana.

Saya memberi contoh cara kerja penulis fiksi yang juga bisa ditiru oleh penulis non fiksi, dalam hal ini penulis artikel di blog. Karena perbedaan antara keduanya adalah pada data dan fakta saja. Jika karya tulis fiksi, data dan fakta disamarkan. Sedang karya tulis non fiksi, data dan fakta harus jelas.

Jadi, ide muncul dari mana saja dan anda harus langsung menuliskannya.

Biasakanlah menuliskan ide ketika kali pertama muncul. Sepertinya memang sepele tapi manfaatnya sangat besar.

Paling tidak ada dua manfaatnya.

Pertama, jika suatu ketika mengalami writers block, anda bisa kembali melihat catatan ide itu.

Kedua, setiap ide adalah benih yang bisa tumbuh menjadi karya hebat. Namun benih itu bisa saja hilang seiring kesibukan sehari-hari. Agar tidak hilang, maka tulislah.

Apakah ide itu harus ditulis panjang atau pendek? Apakah ide itu harus dijadikan karya yang utuh ketika kali pertama muncul?

Saya akan memberi tahu anda pada tulisan selanjutnya.

Tentang penulis

Akbar kasmiati

akbar kasmiati

Tulis komentar

4 Komentar

%d blogger menyukai ini: