Pengalaman Pribadi

Pengalaman Mendapatkan Beasiswa dari SMA hingga Kuliah

Keluargaku bukanlah keluarga yang kekurangan tapi juga tidak bisa dibilang punya kekayaan berlebih, kami menyebutnya keluarga berkecukupan. Ayahku yang kurang dibidang pendidikan dan ibuku yang hanya lulusan SMK tidak menyurutkan semangat keluargaku untuk mendapatkan pendidikan yang layak. Harapannya semua anak anaknya memiliki kehidupan yang lebih baik daripada orang tuanya.

Sejak kecil aku diajarkan untuk hidup sederhana dan terus berusaha, melihat prestasi belajarku yang bisa dibilang lumayan diatas rata rata membuat kedua orang tua serta saudara yang lain terus memberikan dukungan untukku meskipun sebagian besar dukungannya berupa doa. Namun hal itu cukup membuatku tergerak untuk terus bersemangat.

Saat SMP ada bukaan beasiswa diperuntukkan bagi siswa berprestasi, setelah mendapatkan informasi mengenai beasiswa tersebut aku langsung mengabarkan kepada orang tua ku, mereka mendukungku untuk mendapatkan beasiswa tersebut dengan prinsip “Tidak apa sekarang mendapat bantuan, semoga besok kalian mampu membantu orang lain”. Kemudian beasiswa ini berlanjut hingga aku masuk SMA. Di SMA pun aku mengajukan beasiswa lagi dengan beberapa konsultasi dengan guru BK.

Kehidupan SMA ku terlaksana dengan dua beasiswa yang semuanya aku gunakan untuk pembayaran SPP, aku bersyukur karena sedikit membantu kedua orang tuaku. Mereka berpesan bahwa aku harus benar benar memanfaatkan kesempatan ini dengan belajar lebih giat sehingga nilai yang aku dapatkan dapat mencukupi standar sekolah untuk mendaftar ke perguruan tinggi.

Setelah naik ke kelas 3, mulai muncul pertanyaan mengenai dunia perkuliahan, ibu bilang aku harus berjuang untuk mendapatkan salah satu kursi di perguruan tinggi negeri, namun bila tidak, ada dua situasi yang harus aku ambil. Pertama, aku harus berhenti bersekolah dan mulai bekerja, kedua aku harus memiliki beasiswa untuk bersekolah. Situasi ini muncul karena kakakku juga sedang kuliah tanpa beasiswa dan adikku sedang membutuhkan biaya untuk mendaftar sekolah.

Beberapa info telah aku miliki tentang beasiswa perguruan tinggi dan aku menemukan beasiswa dari pemerintah yang disebut Bidikmisi. Beasiswa ini menyebutkan bahwa semua biaya kuliah dari semester 1 hingga semester 8 akan dibiayai oleh negara. Semua data yang dibutuhkan telah aku siapkan, namun ada satu yang membuatku bimbang yaitu nilai raporku saat kelas 1. Aku sedikit menyesal karena waktu itu tidak bersungguh sungguh untuk belajar, hal ini dikarenakan aku belum berfikir mengenai apa yang akan aku lakukan dimasa yang akan datang.

Aku pun berusaha untuk memperbaiki nilai di semester akhir, yah walaupun sudah terlalu terlambat aku pun mulai merubah metode belajarku. Aku menyukai suasana tenang ketika belajar dan karena aku mudah bosan, jadi aku belajar sesuai dengan mood pelajaran. Setelah akhirnya aku bisa mendaftar beasiswa bidikmisi, aku berusaha untuk terus belajar agar hasil ujian dapat maksimal. Ketika seleksi SNMPTN dimulai, aku berjuang dengan nilai yang telah aku dapatkan selama 6 semester, dan hasilnya aku harus sedikit belajar lagi untuk berjuang di SBMPTN.

Karena aku gagal masuk dengan jalur SNMPTN, aku semakin takut jika jalanku untuk mencicip bangku perkuliahan semakin kecil. Aku meminta untuk masuk ke sebuah lembaga pendidikan untuk mendapatkan pelajaran tambahan mengenai tes SBMPTN, dengan waktu satu bulan aku belajar dengan tekun setiap hari. Beberapa informasi yang aku dapatkan, ternyata beasiswa bidikmisi juga dapat digunakan pada jalur SBMPTN, sehingga motivasiku untuk berjuang semakin bertambah.

Pada saat tes SBMPTN tiba, aku mengisi seluruh pertanyaan yang aku bisa, namun saat aku sedang menyalin setengah dari jawabanku, waktu pengerjaan telah habis. Aku panik sekali dan ingin rasanya aku menangis. Aku berusaha untuk lebih cepat menyalin jawabanku dan aku merasa sangat beruntung karena penjaga tes di ruanganku sangat baik hati hehe, dia mau menunggu sedikit lebih lama. Tibalah saat pengumuman, aku sangat gugup untuk membuka hasil ujianku yang ternyata alhamdulillah aku diterima di salah satu PTN negeri di Yogyakarta.

Kembali ke beasisa bidikmisi, ternyata seleksi untuk beasisa ini belum selesai. Aku harus mengirimkan berapa foto dan beberapa saat setelah itu ada survey dari pihak kampus untuk melihat kondisi rumah yang sebenarnya. Disitu aku juga diberi tahu bahwa beasiswa ini juga diberi uang saku untuk keperluan sehari hari. Aku sangat bersyukur karena telah diberikan jalan untuk merasakan kehidupan kampus. semua ini tidak akan bisa aku dapatkan tanpa doa dan usaha yang tinggi.

Tentang penulis

Anindya

Anindya

Tulis komentar