Freelancer

Mengapa Kamu Harus Mengatakan ‘Tidak’ kepada Klien dan Menjadi Spesialis

Sebagai seorang profesional kreatif, Kamu seringkali tergoda untuk menjadi ‘segalanya’ bagi ‘semua orang’ agar mendapatkan penghasilan lebih besar.

Sudah jamak terjadi, para freelancer menyanggupi mengerjakan satu pekerjaan, dimana ia sebenarnya tidaklah begitu baik di bidang itu, hanya karena tidak mau kehilangan peluang mendapatkan uang, dengan mengatakan ‘ya’ kepada setiap klien dan prospek yang ada.

Namun, apakah itu merupakan strategi bisnis yang bagus?

Mengatakan ‘ya’, terhadap semua jenis pekerjaan, gagal menempatkan diri Kamu sebagai seorang ahli, karena memang tidak ada seorang pun menjadi ahli dalam banyak bidang.

Inilah contoh skenario yang kerap dihadapi oleh Kamu, sebagai seorang pekerja kreatif profesional. Kamu menawarkan jasa kepada seorang klien potensial.

Kamu telah menyampaikan kemampuan Kamu, menunjukkan portfolio terbaik Kamu (desain logo, karya tulis, situs web dan lain sebagainya) dan Kamu berhasil membuatnya tertarik serta kagum dengan hasil karya Kamu.

‘Wow, itu luar biasa!’ calon klien berkata.

‘Tapi, apakah Kamu juga bisa mengerjakan….’ jawab calon klien.

Kemudian ia meminta Kamu untuk mengerjakan suatu pekerjaan, yang sebenarnya tidak Kamu tawarkan. Itu mungkin berupa mendesain website, membuat ilustrasi, menulis hal teknis, desain presentasi, apapun itu.

Karena Kamu tidak mau kehilangan kontrak kerja yang sudah di depan mata, akhirnya Kamu berkata:

‘Ya, tentu. Saya pernah mendesain situs web sebelumnya.’

‘Ilustrasi? Ya, oke. Media apa yang Kamu inginkan, pensil, komputer, atau…. cat minyak? Kamu ingin karakter kartun atau mungkin yang lebih realistik?’

Sekilas, Kamu terdengar seperti seorang ‘problem solver’ yang fleksibel. Apapun yang diinginkan oleh klien, Kamu mampu menyediakannya. Kamu seperti layaknya sebuah toserba! Meskipun Kamu mengakui (dalam batin) bahwa Kamu belum pernah mengerjakan hal itu sebelumnya, namun Kamu berusaha menunjukkan bahwa Kamu siap belajar demi mendapatkan satu job.

Sayangnya, yang terjadi malah sebaliknya, artinya pesan yang Kamu sampaikan kepada klien, ditangkap secara berbeda.

Pada saat Kamu dengan cepat menyetujui untuk melakukan pekerjaan yang diminta oleh klien, Kamu bisa menyampaikan pesan yang sama sekali berbeda:

‘Saya baru pernah sekali mendesain sebuah website.’

‘Saya bukan seorang ilustrator profesional, dan tidak memiliki media khusus yang saya kuasai.’

‘Saya akan belajar untuk membuat desain presentasi sesuai arahan dari Kamu.’

Satu hal perlu diingat, orang-orang menghabiskan dana untuk kepentingan bisnis mereka, pastinya berharap hasil akhir dan pengembalian modal yang baik dari investasi yang telah dikeluarkan.

Nah, jika mereka berpikir bahwa Kamu ‘sedang belajar’ sementara mengerjakan apa yang mereka inginkan, mereka akan segera tahu, bahwa adalah yang terlalu beresiko mempertaruhkan investasi mereka, dengan mempekerjakan Kamu.

Lalu, apa jawaban terbaik bagi Kamu sebagai seorang pekerja lepas profesional?

Spesialisasi!

Pelajaran yang bisa kita ambil dari mereka yang telah sangat sukses membangun bisnis freelancer adalah Kamu harus memikirkan niche, jasa terbaik apa yang ingin Kamu tawarkan kepada klien?

Jika Kamu seorang ahli mendesain website dating, misalnya, maka Kamu bisa memasarkan diri Kamu sebagai desainer situs web dating terbaik. Kamu telah memiliki banyak data klien, mempelajari segala seluk-beluk dan permasalahan dalam sebuah website dating, sehingga Kamu mampu menawarkan solusi terbaik, bahkan sebelum klien mengatakan masalah yang mereka hadapi.

Kamu menjadi seorang pakar di bidang pembuatan dan pemasaran situs dating, dengan konsentrasi penuh hanya pada website dating.

Sebaliknya, jika Kamu mengerjakan setiap jenis website dan untuk semua orang, maka Kamu tetap seorang frelancer yang biasa-biasa saja.

Saya sendiri sebagai freelancer desain grafis, memplokamirkan diri sebagai logo specialist, di mana saya hanya mau mengerjakan desain logo, lain tidak.

Memang, nyatanya saya pun mengerjakan desain lainnya, seperti ilustrasi, manipulasi foto dan sebagainya, namun itu saya terima hanya untuk klien yang telah mengenal saya dengan baik, yang sudah pernah mempekerjakan saya sebelumnya. Tapi dari luar saya tetap sebagai desainer spesialis membuat logo.

Menawarkan banyak jenis jasa, sulit untuk memiliki ‘nilai lebih’ di antara ribuan profesional lain.

Memang, dengan menjadi seorang spesialis, Kamu mungkin kehilangan banyak job, yang berimbas pula terhadap besarnya pendapatan Kamu. Namun, yakinlah, pada akhirnya nanti, Kamu akan mendapat jauh lebih banyak dengan menjadi seorang spesialis.

Sebaliknya, jika Kamu menerima semua pekerjaan, lalu tidak memberi hasil maksimal, maka Kamu sedang merusak reputasi sendiri, yang pada gilirannya akan merusak pula hubungan baik dengan klien yang telah susah payah Kamu bangun.

Solusi yang jauh lebih baik dibanding menerima semua ‘tantangan’ dari klien, adalah dengan merekomendasikan pekerjaan tertentu kepada orang lain.

‘Saya spesialis membuat desain logo, bukan mendesain sebuah website. Tapi, saya merekomendasikan seorang desainer web, hasilnya kerjanya luar biasa. Kamu bisa memakai jasanya.’

Dengan cara ini, bukan saja Kamu menunjukkan keahlian Kamu kepada klien, juga Kamu telah mengusahakan yang terbaik bagi klien (sesuatu yang suatu saat nanti Kamu akan memperoleh banyak manfaat darinya), serta membuktikan kepada klien bahwa Kamu adalah seorang profesional yang dapat diandalkan, yang didukung dengan jaringan yang terdiri dari para ahli di bidangnya masing-masing.

Dengan spesialisasi jasa yang Kamu tawarkan, Kamu berhasil memposisikan diri sebagai yang terbaik. Bukankah kita ingin selalu memberi klien hasil terbaik?

Kesimpulannya, jangan menjadi dokter umum. Jadilah seorang dokter spesialis, maka Kamu akan dibayar lebih mahal.

Sukses selalu untuk kita semua.

Salam.

Tentang penulis

Gee Jhon

Gee Jhon

Seorang yang suka belajar, senang berbagi dan gemar berdiskusi. Full time kerja online menjadi freelancer desain grafis, Youtuber serta mengelola beberapa blog.

Tulis komentar

5 Komentar

  • Menjadi spesialist memang sesuatu yang luar biasa namun menerima semua tawaran pekerjaan juga tidak kalah mengagumkannya. . .asal kita sanggup mengerjakannya. . .
    Saya jadi inget salah satu film yang memotivasi sekali. . .judulnya ” Yes Man ”
    Coba dech om admin tonton film itu, , ,keren banget dah. . .

  • Rata rata frelancer menyanggupi yg dikatakan pemberi pekerjaan, jdinya ada sedikit tekanana batin, bila gitu lebih baik belajar dulu yg mapan, baru kita jdi freelancer serba bisa kaya toserba. Salam sukses mas .